Agenda Tahunan

Udar Gelung

Udar gelung adalah bahasa jawa yang artinya mengurai rambut panjang wanita yang diikat dengan rambutnya sendiri (melepas ikatan rambut). Makna udar gelung adalah mengurai berbagai masalah, kendala yang terjadi di desa dan ajang musyawarah warga dengan perangkat desanya, acara ini hanya membutuhkan waktu sekitar setengah hari saja, namun menghasilkan suatu keputusan yang sangat efektif, karena prosesnya telah melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan langsung diimplementasikan secara total oleh segenap warga desa. Makna tradisi udar gelung dapat kita jadikan sebagai media pembelajaran dalam ilmu manajemen dan sistem manajemen modern karena proses dan implementasinya sangat efektif.

Manfaat pelaksanaan Udar Gelung sebagai berikut :

  1. Kepada desa sebagai perangkat desa selalu menunjukkan sifat arif bahwa sebagai pamong desa harus terus ngemong warganya, bukan sebagai pemimpin yang tampil formal tetapi lebih bersifat ngayomi, memandu dan memayu hayuning ketentreman warga.
  2. Proses keputusan strategis dapat dirumuskan melalui cara yang elegan namun tidak mengurangi makna kebersamaan karena keterlibatan seluruh pemangku kepentingan menjadi sangat penting.
  3. Kesederhaan dalam menyelesaikan berbagai problem masyarakat justru terletak pada nilai kepolosan dan kejujuran segenap warga didalam komunitas, terutama karakter pemimpin yang arif, tidak tampil bagai super bos, sabar mendengar dari pada banyak beritorika, ucapannya selaras dengan tindakannya, selalu adil dalam kepemimpinan yang beliau terapkan.

Budaya udar gelung yang sangat baik tersebut seharusnya dilestarikan keberadaannya, namun sistem tata kelola pemerintahan desa telah membawa pengaruh terhadap sistem musyawarah desa, dimana tradisi ini memiliki suatu keunikan yaitu sistem musyawarah guna menyelesaikan berbagai problem komunitas dengan pola yang sederhana, penuh kepolosan dan kejujuran, waktu yang efektif serta suasana kekeluargaan, namun mampu menghasilkan keputusan yang bersifat amplikatif, oleh karena itu peran sentral kepala desa dalam memfasilitasi tradisi ini mampu memberi nilai tambah atas suasana kerukunan komunitas pada masyarakat desa.

Di Desa Sewulan Tradisi udar gelung (Musyawarah desa) dimana musyawarah tersebut dimulai dari dusun, jadi setiap dusun musyawarah dengan warga dusun terkaitĀ  masalah atau kendala yang terjadi di dusun tersebut misalnya masalah jalan rusak yang memerlukan perbaikan. Setelah setiap dusun menemukan masalah, proses selanjutnya yaitu perwakilan dari dusun-dusun tersebut berkumpul di balai desa untuk musyawarah dengan Kepala Desa untuk menyampaikan masalah atau kendala yang nantinya akan di cari solusi dan keputusan untuk mengatasi masalah dari berbagai dusun tersebut. Kegiatan yang dilakukan di balai desa tersebut disebut dengan Musdes (Musyawarah Desa) setelah musyawarah desa dilakukan dimana telah mendapat suatu keputusan yang nantinya akan dilanjutkan dalam Musrenbangdes (Musyawarah Rencana Pembangunan Desa). Dalam tahap Musrenbangdes ini nanti masalah yang ada di bahas lebih lanjut dalam musyawarah tersebut misalnya suatu desa akan melakukan pembangunan rencana tersebut dimusyawarahkan hingga tercapai suatu keputusan untuk suatu pembangunan yang direncanakan tersebut. Perencanan pembangunan yang sudah terperinci tinggal menunggu realisasinya.