Wisata Religi

Masjid Makam Kyai Ageng Basyariyah

Mataram dibawah Pakubuwana I, Pakubuwana I waktu itu berkedudakan sebagai sunan di Mataram namun merugikan Mataram akibat perjanjiannya dengan Belanda dalam peperangan perebutan Mahkota Mataram yang sebelumnya dipegang oleh Amangkurat Mas yang telah diasingkan di Sailan. Akibat perjanjian tersebut rakyat semakin sengsara dimana hasil panen banyak harus diserahkan kepada Sunan demi memenuhi perjanjian dengan VOC hal tersebut hingga wafatnya Pakubuwana I tahun 1719.

Setelah wafatnya Pakubuwana I Amangkurat IV naik tahta namun banyak ditentang oleh kerabatnya sendiri sehingga terjadi peperangan perebutan mahkota yang dilancarkan oleh Pangeran Diponegoro dan Pangeran Dipa Sentana keduanya putra Paku Buwono I dengan istri selir. Selain itu Pangeran Purbaya, Pangeran Balitar dan Aria Mataram mengadakan pembrontakan dengan menyerbu Kartasura. Dalam peperangan Pangeran Dipa Sentana terbunuh. Kertasura diduduki oleh Pangeran Purbaya dan Pangeran Balitar, namun dengan bantuan Belanda Amangkurat IV tidak berhasil ditangkap bahkan dapat merebut kembali Kertasura. Amangkurat IV wafat tahun 1727.

Mataram dipimpin oleh Paku Buwono II setelah amangkurat IV wafat, pada waktu Paku Buwono II naik tahta dalam usia masih remaja sehingga roda pemerintahan Mataram seakan-akan diatur oleh Belanda. Sunan (Paku Buwono II) mengendalikan pemerintahannya tidak ubahnya hanya sebagai lambang saja, apalagi Belanda kembali menekan kepada Sunan untuk menandatangani perjanjian-perjanjian yang merugikan Mataram.Dengan perjanjian ini membuat ketidak senangan dan tida setuju dari para bangsawan Mataram sehingga menimbulkan pembrontakan. Mataram memerangi Belanda, secara diam-diam bekerja sama pemberontak sehingga pusat-pusat penjagaan Belanda diserang dan banyak yang dapat dihancurkan.

Belanda bekerja sama dengan Cina untuk bisa menarik keuntungan sebesar-besarnya dari daerah Mataram, dengan cara Belanda menarik sebanyak mungkin warga Cina. Warga Cina yang semakin berkembang di daerah kekuasan Mataram mengakibatkan banyak orang pribumi maupun orang bebas yang tidak senang kepada warga Cina maka timbullah permusuhan dengan warga Cina. Melihat kenyataan tersesbut Belanda membuat peraturan bagi warga Cina yaitu setiap warga Cina yang sudah tinggal 10-12 tahun tapi belum mempunyai ijin tinggal akan dikembalikan ke negara asalnya dan warga Cina dilarang membuka tempat pelacuran, perjudian dan tempat pemadatan diluar maupun didalam kota. Pada tahun 1740 banyak warga Cina yang melanggar aturan diatas sehingga menimbulkan keresahan warga Cina maka muncullah bentrokan antara Belanda dengan Cina. Pada akhirnya Paku Buwono II secara terang-terangan mengadakan perlawanan terhadap Belanda, Sunan Paku Buwono II menyeru kepada rakyat dan para raja bawahanya agar ikut berperang melawan Belanda. Di Semarang peperangan terjadi sangat hebat, karena kalah persenjataan dan sistem adu domba yang dilakukan oleh Belanda terjadilah perpecahan di tubuh pasukan Matram dan warga Cina, sehingga dalam peperangan Belanda berhasil memukul mundur pasukan Mataram.

Hal tersebut mengakibatkan Sunan Paku Buwono II menjadi bimbang dan berubah pikiran karena diketahui bahwa dalam suasana perang tersebut akan digunakan oleh keluarga istana untuk merebut Mataram, akhirnya Sunan menghentikan perlawanan terhadap Belanda dan memihak kepada Belanda. Sikap Sunan yang demikian itu sangat mengecewakan para pemberontak dan kerabar Sunan yang anti Belanda, bahkan para pemberontak mengangkat R. Mas Garendi sebagai Sunan, beliau masih putra Amangkurat Mas.

  1. Mas Garendi dibantu oleh Pangeran Martapura Adipati Grobongan bersama R Mas Said mengadakan serangan terhadap Mataram dan juga terhadap Belanda, tanggal 30 Juli 1742 serangan besar-besaran dilancarkan di Kertasura sebagai pusat pemerintahan Mataram sehingga Mataram jatuh dan sunan Paku Buwono II meloloskan diri, Mataram dikuasi oleh R Mas Garendi.

Setelah Kertasura jatuh ditangan R Mas Garendi, Sunan meloloskan diri ke Timur yang diikuti oleh pengiringnya sehingga sampai di Gunung Lawu. Disini Sunan berhenti dan bersemedi memunajat kepada Allah agar diberi petunjuk, saat bersemedi Sunan mendapat petunjuk supaya meneruskan perjalanannya ke Ponorogo disana akan bertemu dengan seseorang yang dapat mengembalikan tahta Mataram kepadanya, dan seseorang tersebut adalah santri yang ada di salah satu pesantren di Ponorogo. Maka perjalanan di lanjutkan kembali hingga sampailah di Ponorogo di sekitar salah satu pesantren yang ada di Ponorogo. Sunan mendengar ada orang yang berdzikir prajuritnya disuruh mencari sumber suara tersebut dan alhasil suara tersebut adalah suara dzikir Ky Muh Besari akhirnya Sunan tertarik pada Ky tersebut dan ingin sowan.

Sunan beserta pengiringnya tiba dikediaman Ky Ageng Besari beliau diteri oleh Ny Ageng Besari beserta R Mas Bagus Harun, setelah diketahui yang datang Sunan Mataram kemudian Ny Ageng Besari mengutus R Mas Bagus Harun untuk memberitahukan kepada Ky Ageng Besar yang sedang menjala ikan bahwa Sunan Mataram ingin bertemu Ky Ageng. Ky Ageng segera menemui Sunan Paku Buwono II sedangkan santrinya diutus untuk menghidangkan jamuan untuk tamu. Setelah bertemu Ky Ageng Besari, Sunan menyampaikan maksud kedatangannya bahwa di kota Praja Kertasura telah terjadi huru hara yang dilakukan oleh warga Cina dan kerabat keraton yang tidak setia kepada Mataram, mereka mengadakan persekutuan menentang dan memberontak kepada Mataram bahkan berhasil diduduki dan mereka mengangkat R Mas Garendi sebagai Sunan sehingga saya menyingkir dari keraton untuk memohon Kyai Ageng untuk membantu menumpas pembrontakan Pacinan yang dipimpin oleh R Mas Garendi serta mengembalikan tahta Mataram ke tangan saya kembali. Apabila berhasil akan memberikan ganjaran yang besar.

Kyai Ageng Besari setelah mendengar maksud kedatangan Sunan Kyai menyanggupi dan  Kyai Ageng mengutus R Mas Bagus Harun mengantar Sunan Paku Buwono II kembali ke Kerta sura sekaigus memadamkan pembrontakan Pacinan tersebut. Setelah sampai di Kertasura maka pecahlah pertempuran antara prajurit yang dipimpin oleh R Mas Bagus Harun melawan prajurit R Mas Garendi. Tepat tanggal 20 September 1742 Kertosuro dapat direbut kembali oleh pasukan Matram di bawah pimpinan R Mas Bagus Harun.

Kertosuro kembali tenang Sunan Paku Buwono II mengadakan Paseban Ageng di Istana Mataram dengan memanggil senopati dan kerabat istana termasuk R Mas Bagus Harun yang telah berjasa untuk mendapatkan anugrah sesuai dengan jasanya masing-masing. Dalam pertemuan tersebut Sunan berkeinginan membalas jasa kepada R Mas Bagus Harub untuk diangkat sebagai Adipati Banten namun beliau tidak berkenan menerimanya karena yang dilakukan hanya semata untuk berbakti kepada gurunya serta berbakti kepada Mataram karena jiwanya terpanggil untuk ikut menjga kelangsungan Mataram apalagi Mas Bagus Harun juga masih termasuk trah Mataram.

R Mas Bagus Harun meminta ijin kepada Sunan Paku Buwono II untuk kembali ke Ponorogo karena tugasnya dirasa sudah dapat diselesaikan, Sunan pun berkenan serta memberiakn hadiah berupa Songsong (payung) dan lampit (tikar) yang artinya diberi tanah lungguh yang merdeka. Sebagai penghargaan atas darma baktinya langsung sowan kepada gurunya dan menceritakan semua yang dilakukan di Kertosuro mulai awal sampai akhir. Sunan Paku Buwono II memberikan Sonsong dan lampit adalah bahwa R Mas Bagus Harun diberi wewenang memiliki tanah perdikan yang dapat diwariskan kepada anak cucunya, dan oleh Sunan supaya membuka tanah sebelah timur Gunung Lawu.

Setelah mendapat penjelasan dari Sunan, beliau memohon pamit untuk kembali ke Ponorogo. Ketika perjalan sampai di Grojokan Bang Peluwang Ponorogo (Ngelengkong, Sukorejo, Ponorogo) beliau berhenti memikirkan Songsong dan lampit yang dibawanya. Songsong dan lampit tersebut ditaruh digrojokan Bang Peluwang beliau bermunajat kepda Allah agar para anak cucunya nanti menjadi orang yang mulia serta berbakti kepada Allah, bangsa dan negara.

Sekembalinya R Mas Bagus Harun dari Kertosuro beliau kembali di pesantren Gebang Tinatar Tegalsari yang diasuh oleh Ky Ageng Besari. Suatu hari beliau mempunyai keinginanmendirikan pesantren dan tanah pemukiman seperti di Tegalsari tetapi belum diketahui daerah mana yang akan dibuka untuk anak cucunya sekaligus untuk penyevaran agama islam. Niatnya tersebut disampaikan kepada Ky Ageng Besari sehingga diberi petunjuk untuk mencari songsong dan lampit yang ditaruhnya di Grojogan Bang Peluwang tetapi mencarinya tidak ditempat beliau meletakkan songsong dan lampit tersebut, tetapi supaya dicari di hutan sampai ketemu.

Setelah mendapat perintah dan doa restu dari Ky Ageng Besari, R Mas Bagus Harun segera mohon diri dan berangkat melaksanakan perintah gurunya, selama dalam perjalanan untuk mencari songsong di hutan, beliau membawa bekal biji nagka dan disebar selama perjalanan. Perjalanan R Mas Bagus Harun tanpa terasa sudah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan tetapi songsong yang dicari belum juga diketemukan, hal ini oleh beliau dianggap ujian. Bahkan beliau melakukan pencarian songsong disertai puasa sampai pencarian songsong tersebut memasuki bulan Ramadhan, saat itu ketika malam hari saat beliau bertafakur dan munajat kepada Allah, beliau mencium bau harum dan melihat sinar yang terang benderang setelah diamati maka terlihat sebuah songsong yang berdiri tegak tetapi tinggal warangkanya. Songsong tersebut diperhatikan dengan seksama ternyta songsong yang dilihatnya ada tanda H dan setelah diamati ternyata benar bahwa songsong tersebut adalah miliknya, maka puji syukur diucapkan kepadanya, apalagi saat songsong tersebut ditemukan bertepatan dengan turunnya Lailatul Qodar yang merupakan malam yang lebih utama dari seribu bulan (SEWU WULAN).

Songsong yang telah beliau temukan segera dibawa menghadap Ky Ageng Besari dan Ky Ageng Besari dawuh “Ya ditempat itulah yang ada payungnya dirikanlah masjid, dan temoat itu berilah nama SEWULAN, sebab saat songsong tersebut kalian temukan bertepatan dengan turunya Lailatul Qodar”.

R Mas Bagus Harun menemui Sunan Paku Buwono II untuk meminta ijin dan restu untuk mempbuka daerah yang akan digunakan untuk menyebarkan Agama Iaslam serta keturunannya. Akhirnya permohonan R Mas Bagus Harun disetujui oleh Sunan Paku Buwono II apalagi sebelumnya memang Sunan juga sudah memberikan keleluasaan dan anugrah kepada R Mas bagus Harun untuk membuka tanah pardikan. Maka segeralah R Mas Bagus Harun membuka daerah yang akan dijadikan sebagai pemukiman didaerah ditemukannya songsong/payung dan diberi nama “Sewulan”. Banyak para warga masyarakat yang mohon ijin untuk dapat berdiam di daerah tersebut mereka itu bisa disebut Magersari. Mereka dipinjami tanah garapan dan pemukiman oleh R Mas Bagus Harun dan tanah tersebut setiap tahunnya harus dikembalikan kepada Kyai selanjutnya dipinjamkan lagi pada saat UDAR GELUNG. Lama kelamaan perdikan Sewulan menjadi daerah yang ramai sekaligus sebagai pusat penyebaran Agama Islam di Madiun yang memiliki santri yang banyak. Dan untuk sarana ibadah maka dibangunlah sebuah masjid yang cukup megah yang diberi nama Masjid Al Basyariyah. Pembangunan masjid itu sendiri dilakukan oleh Ky Ageng Basyariyah beserta menantunya.

Adapun bangunan di lingkungan masjid Al Basyariyah sebagai berikut :

  1. Pintu Gapura

Pintu Gapura bermakna setiap insan harus selalu memohon ampun atas semua kesalahan kepada Allah SWT, karena manusia tidak lepas dari kesalahan dan kelemahan sedang Allah SWT adalah Dzat Maha Pengampun dari semua dosa-dosa hambaNya.

  1. Halaman masjid yang ditanami pohon tanjung, sawo kecik manila, sawo kecik mahardika.

Halaman dan pohon tersebut bermakna setiap insan yang sudah orang islam harus mau melaksanakan dan menjunjung tinggi perbuatan-perbuatan yang baik.

  1. Kolam pasucian

Kolam Pasucian bermakna setiap orang muslim yang menginginkan memasuki kerajaan Allah SWT harus mau membersihkan dirinya lahir dan batin,tanpa memiliki kesucian maka tidak akan dapat memasuki kerajaan Allah sebab Allah bersifat suci.

  1. Serambi Masjid

Serambi masjid bermakna sebelum seorang hamba dapat memasuki inti kerajaan Allah, hamba tersebut harus menguasai, memahami, melaksanakan semua aturan-aturan dan syarat-syarat seorang hamba untuk mengabdi kepda Allah.

  1. Induk masjid memiliki 4 (empat) pintu 5 (lima) jendela

Induk masjid memiliki 4 (empat) pintu 5 (lima) jendela bermakna seorang hamba Allah yang sedang melakukan sholat, sujud, bernuwajjahah dengan penciptaNya harus dapat menguasai, menundukkan, mengheningkan semua indahnya karena lewat lobang tersebut masuknya semua godaan dan nafsu.

  1. Tiang penyangga masjid memiliki 4 tiang penyangga

Tiang penyangga masjid memiliki 4 tiang penyangga bermakna secatra syariat umat islam supaya mengikuti pewaris nabi/ulama khususnya ulama besar maliki, Syafi’i, Hanafi dan Hambali.

  1. Atap Masjid berbentuk 3 tingkat

Atap Masjid berbentuk 3 tingkat bermakna seorang islam bila ingin mencapai kesempurnaan hidup, tidak cukup hanya menjalankan syariat saja tetapi harus dilengkapi dengan Thorikot, Haqiqat, Makrifat dimana keempatnya tidak boleh dilepaskan dan harus berjalan bersama-sama.

Lama kelamaan Perdikan Sewulan menjadi daerah yang ramai sekaligus sebagai pusat penyebaran agama islam di Madiun dan sekitarnya yang memiliki Pesantren besar. Setelah R Mas Bagus Harun meninggal beserta keluarga terdekatnya dan para pendiri desa Sewulan dimakamkan disamping masjid Al Basyariyah. Makam Kyai Mas Bagus Harun tersebut digunakan untuk ziarah karena dinilai selain beliau seorang tokoh pendiri Desa Sewulan juga sebagai Kyai yang sakti yang mampu menumpas pembrotan di Mataram terkenal dengan ilmu agama yang tinggi. Tokoh masyarakat Abdurrahman Wachid masih mempunyai garis keturan dari Kyai Ageng Basyariyah (R Mas Bagus Harun). Para penziarah setiap harinya selalu ada untuk berziarah, terlebih dihari Kamis malam Jumat peziarah semakin banyak karena di malam Jumat merupakan waktu-waktu yang munajab untuk berdoa dan mengirim doa untuk warga sanak keluarga yang sudah meninggal.